اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْكَنَهُ فِي الْأَرْضِ، وَإِنَّا عَلىَ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Jamaah yang dirahmati Allah
Setetes air yang selama ini kita anggap biasa ternyata pada saat musim kemarau menjadi nikmat yang luar biasa.
Saat ini kita sedang menghadapi musim kemarau. Di sejumlah tempat, hujan semakin jarang turun. Sumber-sumber air mulai berkurang, sumur mulai mengering, tanah menjadi tandus dan sebagian masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Tanah yang lama tidak disentuh hujan, Retak-retak, pecah, keras, dan tanaman di atasnya layu satu per satu
Hari ini, mari bersama-sama merenungkan tiga nasehat yang disebutkan para ulama sebagai sebab-sebab tertahannya hujan dari langit—sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan: “mulailah dari dirimu sendiri.”
Jamaah yang dicintai Allah,
Nasehat Pertama: Kemarau Hati Sebelum Kemarau Bumi
Sering kali kita menangisi tanah yang mengering, tetapi kita lupa menangisi hati kita yang sudah lama gersang. Bumi menahan airnya karena langit menahan rahmatnya, dan langit menahan rahmatnya karena hamba-hamba di bumi telah berpaling dari-Nya. Allah SWT mengingatkan kita dalam surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Perhatikan penutup ayat tersebut: “agar mereka kembali.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Nasehat Kedua: Lupa Bersyukur dan Enggan Berbagi
Ketika hati telah mengering, kita sering kali lupa bersyukur atas nikmat yang melimpah. Saat air mengalir deras dari keran rumah kita, pernahkah kita mengucap Alhamdulillah dengan tulus? Atau kita baru menyadari betapa berharganya setetes air ketika keran itu mengering dan sumur tak lagi meneteskan airnya?
Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah:
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا القَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلاَ البَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا
Artinya: “Dan tidaklah suatu kaum menahan zakat harta mereka, melainkan ditahan pula untuk mereka hujan dari langit. Seandainya bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.”
Lihatlah betapa dalamnya pesan Rasulullah ini. Kadang-kadang, hujan diturunkan bukan karena kesalehan manusia, melainkan karena rasa kasihan Allah kepada hewan-hewan yang kehausan di padang pasir. Betapa malunya kita sebagai manusia, yang diberi akal dan harta, namun enggan mengeluarkan hak fakir miskin.
Ibn Ata’illah As-Sikandari dalam kitab Al-Hikam memberikan hikmah yang sangat indah tentang syukur:
“Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat, maka ia telah bersiap untuk kehilangannya. Dan barang siapa yang mensyukurinya, berarti ia telah mengikat nikmat itu dengan tali yang kuat.”
Kemarau panjang mengajari kita untuk kembali membumi. Harta yang kita kumpulkan tidak bisa membeli setetes hujan. Jabatan yang kita banggakan tidak bisa memanggil awan. Di hadapan kemarau, kita semua sama: hamba yang sangat butuh dan lemah di hadapan Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Nasehat Ketiga: Pintu Istighfar yang Terlupakan
Lantas, jika bumi sudah mengering dan langit tak kunjung menurunkan airnya, ke mana kita harus berlari? Jawabannya sederhana: kembali memohon ampun kepada-Nya.
Lihatlah sejarah orang-orang saleh sebelum kita. Umar bin Khattab رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ pernah keluar bersama kaum muslimin untuk melakukan salat Istisqa (memohon hujan). Di atas mimbar, beliau tidak memperbanyak doa-doa yang rumit, melainkan terus-menerus membaca istighfar hingga air matanya menetes. Allah SWT berfirman dalam Surah Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Artinya: “Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa istighfar bukan sekadar ucapan di lisan. Istighfar harus diiringi dengan kesadaran untuk meninggalkan dosa, memperbaiki diri, mengembalikan hak orang lain, menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, dan kembali mendekat kepada Allah.
Karena itu, jangan hanya meminta hujan dengan lisan, tetapi mari kita juga memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia.
Jika selama ini kita masih meninggalkan salat, mari kita kembali menjaga salat.
Jika selama ini kita masih mengambil hak orang lain, mari kita kembalikan.
Jika selama ini kita masih menyimpan kebencian, mari kita belajar memaafkan.
Jika selama ini kita masih berat mengeluarkan zakat dan sedekah, mari kita tunaikan apa yang menjadi hak saudara-saudara kita.
Dan jika selama ini lisan kita banyak mengucapkan istighfar, tetapi kaki kita masih berjalan menuju maksiat, maka marilah kita benahi istighfar kita dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kemarau yang kita rasakan hari ini hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah. Jangan sampai kita hanya sibuk bertanya, “Kapan hujan turun?”, tetapi tidak pernah bertanya kepada diri sendiri, “Sudahkah kita kembali kepada Allah?”
Jangan hanya melihat langit yang mendung atau cerah, tetapi lihatlah hati kita: apakah hati kita masih hidup dengan iman, atau telah kering karena jauh dari Allah?
Mari kita hidupkan kembali istighfar di rumah-rumah kita.
Mari kita basahi lisan kita dengan:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Mari kita jaga lingkungan, jangan merusak alam, jangan membuang sampah sembarangan, dan jangan menggunakan air secara berlebihan. Sebab seorang mukmin tidak hanya berdo’a agar hujan turun, tetapi juga berusaha menjadi manusia yang membawa rahmat bagi kehidupan.
Semoga Allah menurunkan hujan yang bermanfaat, hujan yang membawa keberkahan, bukan hujan yang membawa bencana.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مُرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, yang menyegarkan, yang subur, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, segera dan tidak ditunda.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan memperbanyak istighfar. Semoga dengan istighfar kita, Allah mengangkat kesulitan kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan membuka pintu-pintu rahmat-Nya.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

