Khutbah Jum’at: Di Tengah Dosa yang Menggoda, Takwa Adalah Penjaga

Khutbah Jum’at: Di Tengah Dosa yang Menggoda, Takwa Adalah Penjaga

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السّلَامِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الْكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الْإِخْوَانِ، اُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي اْلقُرْاٰنِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ، يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Khotib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian: bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa!

Takwa… bukan hanya di lisan… Takwa… bukan hanya di pakaian… Takwa… adalah rasa diawasi oleh Allah dalam setiap detik kehidupan!

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di zaman yang penuh godaan. Dosa tidak lagi sulit dicari, bahkan ia datang menghampiri. Melalui pandangan, melalui ucapan, melalui teknologi, bahkan melalui sesuatu yang tampak biasa namun membawa kita kepada kelalaian.

Dulu, orang harus mencari tempat maksiat. Sekarang, maksiat datang ke dalam genggaman. Di sinilah pentingnya taqwa.

Rasulullah ﷺ memberikan kepada kita satu pedoman hidup yang agung.

Beliau bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini jika kita renungkan adalah inti dari seluruh ajaran Islam!

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

  1. Bertakwa kepada Allah di mana pun berada

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Nabi SAW tidak hanya memerintahkan takwa semata, namun bertakwa dimana pun kita berada, baik di tengah keramaian maupun di kala sunyi bersendirian. Inilah takwa yang sebenar benarnya, dan takwa yang paling berat.

Hadis tadi mengajarkan bahwa taqwa bukan hanya di Masjid, bukan hanya saat ibadah, tetapi di mana pun kita berada.

Saat sendiri – taqwa menjaga kita.

Saat tidak ada yang melihat – taqwa mengawasi kita.

Saat ada kesempatan berbuat dosa – taqwa menahan kita.

Imam Syafii dalam (Jami Ulum wal Hikam juz 2 halaman 18) mengatakan, Perkara yang paling berat itu ada tiga, dermawan saat memiliki sedikit harta, meninggalkan hal yang haram saat sendirian dan mengatakan kebenaran saat berada di dekat orang yang diharapkan kebaikannya atau ditakuti kejahatannya.

Ketika seorang bersendirian, menyepi tanpa ada yang mengetahui, maka hal itu akan mendorongnya untuk lebih mudah bermaksiat. Kecuali ia sadar bahwa Allah senantiasa mengawasinya, dan rasa takutnya menjadi lebih besar sehingga ia tidak berani melakukan kemaksiatan

Allah ﷻ berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Allah mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan dalam dada.” (QS. Ghafir: 19)

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Dengarkan kisah ini… dan rasakan dengan hati…

Suatu hari, Umar bin Khattab berjalan di padang pasir. Beliau melihat seorang penggembala kambing, lemah, sederhana, tidak dikenal manusia.

Umar berkata :“Juallah kepadaku seekor kambing.”

Penggembala menjawab :“Itu bukan milikku… itu milik tuanku.”

Umar berkata lagi :“Katakan saja kambing itu dimakan serigala…”

Jama’ah sekalian…

Kesempatan terbuka…Tidak ada yang melihat…Tidak ada saksi…

Namun pemuda itu menjawab dengan kalimat yang mengguncang dunia:

“فَأَيْنَ اللَّهُ؟”

“Kalau begitu… di mana Allah?”

Allahu Akbar!

Kalimat ini… bukan sekadar kata…Ini adalah iman yang hidup dalam dada!

Umar menangis…Hatinya bergetar… jiwanya tersentuh…

Seorang penggembala…

Tetapi lebih mulia dari banyak manusia…

Karena ia merasa diawasi Allah!

Jama’ah sekalian,

Mari kita tanya diri kita…Saat kita berbohong…Di mana Allah?

Saat kita curang…Di mana Allah?

Saat kita lalai shalat…Di mana Allah?

Jika pertanyaan ini hidup dalam hati kita… Maka kita akan selamat!

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

  1. Mengiringi keburukan dengan kebaikan

 وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Kita bukan manusia tanpa dosa…

Tetapi jangan biarkan dosa menjadi kebiasaan. Allah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan.” (QS. Hud: 114)

Saat kita terjatuh dalam dosa, Islam tidak mengajarkan putus asa. Justru di situlah pintu harapan dibuka. Setiap keburukan yang terjadi bukan akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk Kembali – lebih dekat, lebih sadar, dan lebih tulus kepada Allah.

Ketika lidah pernah menyakiti, iringilah dengan kata-kata yang menenangkan.

Ketika tangan pernah berbuat salah, iringilah dengan membantu dan memberi.

Ketika hati pernah lalai, iringilah dengan zikir dan air mata taubat.

Karena sejatinya, kebaikan itu bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga penenang jiwa. Ia seperti cahaya yang perlahan menghapus gelap, seperti hujan yang membersihkan debu yang menempel.

Iringilah setiap keburukan dengan kebaikan, agar luka berubah menjadi pahala, dan dosa menjadi jalan menuju surga.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

  1. Berakhlak mulia kepada sesama  وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Akhlak mulia lahir dari hati yang bersih. Ia tampak dalam senyuman yang tulus, dalam kata-kata yang lembut, dan dalam sikap yang tidak menyakiti meski kita mampu membalas. Ia hadir saat kita memilih memaafkan, meski hati sempat terluka. Ia hidup ketika kita tetap berbuat baik, meski tidak selalu dihargai.

Berakhlak mulia berarti: ketika orang lain kasar, kita memilih lembut. Ketika orang lain menyakiti, kita memilih mendoakan. ketika orang lain menjatuhkan, kita tetap menjaga kehormatan mereka. Karena sejatinya, akhlak bukan tentang siapa mereka… tapi tentang siapa kita di hadapan Allah.

Akhlak mulia juga adalah bentuk ibadah yang sering terlupa. Tidak semua orang mampu banyak bersedekah, tidak semua kuat berpuasa sunnah, tetapi setiap orang mampu untuk berkata baik, bersikap santun, dan menjaga perasaan sesama.

Dan ketahuilah, hati manusia itu lembut… ia bisa terluka oleh ucapan yang sederhana, namun juga bisa sembuh hanya dengan sikap yang penuh cinta.

Maka jadilah penyejuk, bukan pemicu luka. Jadilah penguat, bukan peruntuh semangat. Karena bisa jadi, akhlak baik kita… adalah alasan seseorang kembali percaya pada kebaikan, bahkan kembali mendekat kepada Allah SWT.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai dan paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”

Allah juga berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kepada manusia dengan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 83).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ