اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ سَبَبًا لِرِضَاهُ، وَفَتَحَ لِعِبَادِهِ أَبْوَابَ الرِّزْقِ، وَأَمَرَهُمْ بِالسَّعْيِ فِي الْأَرْضِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْكَثِيْرَةِ الَّتِيْ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى
وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللّٰهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَقُدْوَةً لِلْعَامِلِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَم وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh,
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberi kita begitu banyak nikmat-nikmat yang sering kita rasakan, namun jarang kita renungkan. Nikmat sehat, nikmat waktu, bahkan nikmat iman yang hari ini membawa kita duduk di Masjid yang mulia ini.
Sholawat berbingkai salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sosok yang namanya selalu kita rindukan, namun sunnahnya sering kita lupakan. Semoga kelak kita diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafa’atnya.
Selanjutnya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah-ibadah mahdhah, tetapi juga dalam setiap langkah kehidupan kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sepulang dari perang Khandak, saat situasi kaum muslimin kembali normal. Rasulullah ﷺ berjumpa dengan salah seorang sahabat bernama Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary Radhiyallahu ‘Anhu di salah satu sudut kota Madinah. Penampilannya lusuh, tubuhnya hitam dengan sisa bau keringat menyengat, disebabkan ia bekerja kasar sebagai seorang tukang pemecah batu di bawah terik matahari.
Ketika bersalaman, Rasulullah merasakan telapak tangan Sa’ad terasa sangat kasar, melepuh, dan pecah-pecah. Beliau tidak lantas melepaskannya, malah bertanya dengan lembut:
“Wahai Sa’ad, kenapa tanganmu kasar sekali seperti ini?”
Sa’ad dengan agak malu menjawab, “Ya Rasulullah, tangan ini kasar karena saya gunakan untuk mencangkul tanah dan memecah batu setiap hari. Hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya agar tidak meminta-minta kepada orang lain.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang. Beliau mengangkat tangan Sa’ad yang kasar itu, lalu menciumnya. Beliau kemudian bersabda:
“هَذِهِ يَدٌ لَا تَمَسُّهَا النَّارُ”
“Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Tangan ini tidak akan pernah disentuh oleh api neraka.”
Hadirin yang berbahagia
Dalam kehidupan ini, tidak ada manusia yang lepas dari bekerja. Ada yang menjemput rezeki di sawah, di pasar, di kantor, di jalanan, di balik meja, bahkan di tengah terik dan lelahnya kehidupan. Namun Islam memuliakan semua itu. Tidak ada pekerjaan yang hina selama halal, bahkan bekerja bisa menjadi ibadah yang agung di sisi Allah.
Seringkali kita memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Kita mengira ibadah hanya sebatas sholat, puasa, dan dzikir. Padahal, Islam mengajarkan bahwa seluruh aktivitas bisa bernilai ibadah—termasuk bekerja—jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar. Allah Ta‘ālā berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ (التوبة: ۱۰۵)
“Katakanlah: bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
Hadirin..
Ayat ini mengingatkan kita, bahwa setiap usaha kita tidak pernah luput dari penilaian Allah.
Di tengah-tengah persaingan hidup yang begitu ketat, membuat banyak orang memilih melakukan jalan pintas demi memperoleh harta, kepuasan, dan kekuasaan sesaat, meski jalan tersebut justru akan menjerumuskan pada malapetaka. Jauh sebelum ini Rasulullah ﷺ pernah memprediksi:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
”Akan tiba suatu zaman di mana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram.” (HR Bukhari).
Kini, kita menyaksikan sebuah kenyataan di mana orang sangat berani melakukan perbuatan yang diharamkan Allah SWT, ada yang korupsi, menipu, merampok, judi online, dan sebagainya. Padahal Rasulullah ﷺ sangat memuliakan umatnya yang bekerja dengan jerih payahnya.
Kisah tadi mengandung hikmah bahwa tangan yang tidak pernah disentuh oleh api neraka bukanlah tangan yang lembut, atau bukan pula tangan yang sekali tanda tangan, ratusan juta rupiah cair. Melainkan tangan yang melepuh karena bekerja keras mencari nafkah yang halal. Inilah tangan yang di dalamnya terkandung rasa tanggung jawab. Tangan penuh ikhlas dalam menjalankan amanah yang Allah SWT berikan. Tangan yang digunakan semata-mata berada di jalan Allah SWT serta jauh dari perbuatan haram.
Meskipun orang yang tangannya dicium Rasulullah ﷺ adalah Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary, tapi hakikat penghormatan beliau selalu hadir untuk siapapun yang mau bekerja.
Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh,
Agar kerja kita tidak sekadar lelah, tetapi menjadi ibadah yang berpahala, maka ada beberapa hal yang perlu kita jaga:
Pertama: Niat yang ikhlas karena Allah
Segala amal bergantung pada niatnya. Betapa banyak orang bekerja, namun hanya mendapatkan lelah. Dan betapa banyak pula yang bekerja sederhana, tetapi mendapatkan pahala berlipat karena niatnya lurus. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (رواه البخاري ومسلم)
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
Seorang ayah yang keluar rumah di pagi hari, menahan lelah demi keluarga—jika ia niatkan karena Allah—maka setiap langkahnya adalah ibadah, setiap keringatnya adalah berkah.
Kedua: Kejujuran dan amanah
Kejujuran adalah cahaya dalam pekerjaan. Tanpanya, rezeki mungkin bertambah, tetapi keberkahan akan hilang. Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ الْأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ (رواه الترمذي)
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.”
Ketiga: Tidak melalaikan kewajiban kepada Allah
Kesibukan kerja jangan sampai membuat kita jauh dari Allah. Jangan sampai tangan sibuk bekerja, tetapi hati lalai mengingat-Nya. Allah berfirman:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ (النور: ۳۷)
“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat.”
Inilah ciri orang yang benar-benar sukses—yang dunia tidak melalaikannya dari akhirat.
Keempat: Sekecil apapun yang kita dapatkan wajib kita syukuri. Jika nikmat itu disyukuri, akan terasa cukup dan membawa berkah. Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ (إبراهيم: ٧)
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Semoga Allah memberkahi rezeki kita, melapangkan usaha kita, dan menjadikan setiap kerja kita sebagai amal shalih yang diterima di sisi-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

